Friday, 20 February 2015

MAKALAH FONOLOGI "MEMBEDAKAN FONEMIK DAN FONETIK'



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Fonologi memusatkan perhatiannya kepada bahasa sebagai medium komunikasi daripada sebagai hal-hal lain, apakah dalam bentuk lisannya ataukah dalam bentuk tertulisnya. Oleh karena ada ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli itu mempergunakan juga fonologi sebagai alat untuk menganalisis bahasa dalam bidang mereka, maka terjadi semacam gabungan pendekatan dalam studi itu.
Dalam fonologi terdapat struktur-struktur yang mendasari pengetahuan fonologi. Oleh karena itu kami sengaja akan sedikit membahas tentang hal-hal yang mendasarinya dari sedikit ilmu yang kami dapatkan.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa pengertian Fonologi?
2. Apa manfaat Fonologi?
3. Apa tinjauan Fonemik?
4. Apa tinjauan Fonetik?
5. Apa perbedaan Fonemik dan Fonetik?

C.       Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk membuka pengetahuan serta mengorek seluk beluk tentang fonologi yang mempunyai implikasi dalam penerapannya bagi pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta mengetahui perbedaan antara Fonemik dan Fonetik. Selain itu makalah ini dapat dijadikan sebagai referansi bagi calon guru maupun guru dalam pengajaran sastra di sekolah.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fonologi

            Di dalam penyelidikan, bunyi-bunyi bahasa itu banyak ragamnya. Karena itu bunyi-bunyi tersebut diklasifikasikan  ke dalam klasifikasi tertentu, ilmu yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa serta merumuskannya secara teratur dan sistematis tersebut dinamakan fonologi, (phone= bunyi; logos = ilmu). Sedangkan menurut Verhaar (1987:36) mengatakan bahwa fonologi adalah bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu yang menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal. Salah satu aspek di dalamnya adalah masalah distribusi fonem.
B. Manfaat Fonologi
            Penyelidikan bunyi-bunyi bahasa suatu bahasa mempunyai fungsi yang besar dalam hal menciptakan tanda-tanda/lambang-lambang yang menyatakan bunyi ujaran. Lambang-lambang bunyi ujaran itu disebut huruf, sedangkan aturan penulisan huruf itu disebut ejaan.
            Munculnya ejaan jelas merupakan usaha yang memiliki manfaat besar,terutama untuk menyimpan informasi. Kalau ejaan dapat diterapkan sesuai dengan bunyi ujaran, tentunya, informasi yang diabadikan lewat tulisan itu juga akan lebih komunikatif. Namun, harus disadari bahwa tidak pernah ada sistem tulisan yang sempurna.
            Dalam penggunaan secara praktis, bunyi-bunyi bahasa yang beragam itu akan sulit digambarkan. Andaikan dapat menghafalkannya (dalam usaha menggunakan bahasa tulis) bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi jika bunyi-bunyi itu mirip. Karena itu, hasil penyelidikan fonemiklah yang seharusnya dijadikan dasar pembentukan sistem tulisan. Dasar yang harus digunakan di sini adalah sebuah fonem dilambangkan dengan satu huruf/tanda/lambing/grafem. Sistem tulisan (ejaan) yang demikian ini disebut ejaan fonemis. Dengan kata lain, ejaan fonemis ini menganut sistem monograf.
            Di samping itu, fonem /ә/ dan /è/ yang terbukti sebagai fonem-fonem yang berbeda dilambangkan dengan huruf yang sama, yakni (è). Telah terbukti pula bahwa antara /?/ (apostrof) /bisat ( ‘ ) dengan /k/ terdapat perbedaan yang fungsional, tetapi kenyataannya keduanya dilambangkan dengan huruf yang berbeda, yakni (k) atau ( ‘ ) tetapi ada perbedaan dalam pengucapannya. Satu grafem/huruf yang melambangkan dua fonem yang berbeda ini dikenal dengan istilah diafon.
C. Kajian Fonemik
            Dalam kajian fonemik, istilah fonem juga dibicarakan. Bahwa fonem merupakan bunyi bahasa  terkecil yang dapat atau berfungsi membedakan arti. Telaah tentang fonem inilah yang dikatakan fonemik.
            Telaah bunyi bahasa yang dikaitkan dengan fungsinya sebagai pembeda arti ini baru berkembang pada permulaan abad ke duapuluh. Seorang Polandia, Kurszweski dianggap sebagai pelopornya. Namun, dia sendiri tidak mengembangkan idenya. Ide Kurszweski yang meletakkan  dasar-dasar fungsi sebuah bunyi bahasa, kemudian dikembangkan oleh Bandouin de Caurtanay, Daniel Jones, dan Edward Sapir. Hal ini lebih ditegaskan lagi dalam kongres linguistik di Den Hag (Belanda) tahun 1928, yang menyarankan agar setiap analisis bahasa harus membedakan bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi (fonem) dan bunyi-bunyi bahasa yang tak berfungsi (fona). Fonemik menggunakan materi yang diambil dari hasil penelitian fonetik. Namun, tidak seluruh materi fonetik menarik perhatian fonemik. Karena itulah fonemik mengadakan pemilihan materi, yaitu hanya bunyi-bunyi bahasa yang mampu membedakan arti serta variasi-variasinya yang muncul dalam ucapan.
            Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya, bunyi-bunyi itu dikelompok-kelompokkan ke dalam unit-unit yang disebut fonem. Fonem inilah yang dijadikan  objek penelitian fonemik. Jadi, tidak seluruh bunyi bahasa yang bisa dihasilkan oleh alat bicara dipelajari oleh fonemik. Bunyi-bunyi bahasa yang fungsional yang menjadi kajian fonemik. Dalam hal ini L. Bloomfield (1964:78) menuliskan “the study of significant speech sound is phonology or practical phonetics”.
            Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, fonemik mengambil sikap  yang sesuai dengan harapan penelitian linguistik. Jika pembedaan bunyi bahasa (ucapan) hanya didasarkan pada sikap dan posisi alat bicara yang relatif banyak jumlahnya, tak akan mudah bunyi bahasa itu ditentukan jumlahnya secara pasti. Fonem /k/ pada kata “paku” dan /k/ pada kata “maki” tidak dihasilkan pada posisi artikulasi yang sama. Bunyi /k/ pada kata “paku” terpengaruh oleh vokal /u/ yang tergolong vokal belakang, sehingga /k/ tertarik ke belakang menjadi velar belakang, sedangkan vokal /i/ yang mempengaruhi /k/ pada kata “maki” tergolong vokal depan, yang mengakibatkan /k/ pada “maki” tertarik ke depan (disebut velar depan).




            Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya, bunyi – bunyi itu dikelompokkan ke dalan unit – unit yang disebut fonem. Fonem inilah yang dijadikan objek penelitian fonemik. Jadi tidak seluruh bunyi bahasa yang bisa dihasilkan oleh alat bicara oleh fonemik.
Misalnya perbedan antar bunyi / k / pada “cocok” (sesuai) dengan / k / pada kelomopk “bercocok tanam” bersifat fungsional sebab cocok yang pertama diucapkan dengan / k / velar, sedangkan cocok yang kedua diucapkan / k / hamzah dan cocok pada kedua kat tersebut berbeda arti. Kata yang pertama diucapkan / cocok / dan kedua / coco? /, contoh lain pada kata  [ laba] dan  [ raba ].    
D.     Kajian Fonetik
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas: vokal, konsonan dan semi vokal (Cf. Jones, 1958:12). Perbedaan ini didasarkan pada ada tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Bunyi disebut vokal, bila terjadinya tidak ada hambatan pada alat bicara. Jadi tidak ada artikulasi. Hambatan untuk bunyi vokal hanya ada pita suara saja. Hambatan yang hanya terjadi pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi (Verhaar, 1977:17). Karena vokal dihasilkan dengan hambatan pita suara bergetar. Glotis dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian semua vokal adalah bunyi bersuara.
Bunyi disebut konsonan, bila terjadinya dibentukdengan hambatan arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi. Proses hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan bergetarnya pita suara. Jika hal ini terjadi maka yang terbentuk adalah bunyi konsonan bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai bergetarnya pita sua-ra, glotis dalam keadaan terbuka. Maka bunyi yang dihasilkan adalah konsonan tak bersuara.
Untuk lebih memudahkan pemberian klasifikatif vokal, Daniel Jones seorang ahli fonetik dari Inggris memperkenalkan sistem vokal kardinal (Cardinal Vowels). Vokal-vokal kardinal ialah bunyi-bunyi vokal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu, dan bentuk bibir tertentu (Jones, 1958:18; cf. Lapolwa, 1981:24).
Vokal-vokal kardinal itu dalam abjad fonetik internasional (Internasional Phonetics Associations) urut dari 1 sampai 0. Parameter penentuan vokal-vokal rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, struktur, dan bentuk bibir.
Adapun klasifikasi konsonan tidak diperlukan prinsip-prinsip bagi kardinal karna secara fisiologis antara konsonan dengan yang lain lebih mudah dibedakan daripada vokal-vokal secara prak-tis biasanya konsonan dibedakan menurut:
1)     Cara dihambat.
2)     Tempat hambatan.
3)     Hubungan posisional antara penghambat-penghambatnya atau hubungan antara artikulator aktif  dengan pasif (struktur).
4)     Bergetar tidaknya pita suara.
Fonem merupakan bunyi bahasa yang fungsional, sedangkan fona tidak. Ilmu yang mempelajari fona inilah dikenal dengan fonetik. Dengan kata lain bahwa fonetik merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana bunyi bahasa itu terbentuk berupa frekwensi getaran, intensitas, dan timbrenya, serta bagaimana bunyi bahasa tersebut dapat diterima oleh telinga (Yulianto, 1989:23).
Keraf (1979:29) menyatakan bahwa fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia banyak varia-sinya dan tak terbatas. Perubahan posisi alat ucap akan membawa perubahan bunyi yang dihasilkan, bahkan dari posisi yang samapun bisa pula dihasilkan bunyi yang berbeda jika bahasa kerjanya alat-alat yang lain berbeda (Yulianto, 1989:23).
Lebih lanjut dikatakan bahwa fonetik adalah cabang ilmu linguistik yang meneliti dasar “fisik” bunyi-bunyi bahasa (Verhaar, 2001:19). Ada dua segi dasar fisik tersebut, yaitu segi alat-alat bicara serta penggunaannya dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa, dan sifat-sifat akustik bunyi yang telah dihasilkan.
Menurut dasar di atas, yang pertama fonetik disebut “fonetik organik” (karena menyangkut alat-alat bicara), atau “fonetik artikulatoris” (karena menyangkut pengartikulasian bunyi-bunyi bahasa). Menurut dasar yang kedua fonetik disebut “fonetik akustik”, karena menyangkut bunyi bahasa dari sudut bunyi sebagai getaran udara. Sebagian besar fonetik akustik berdasarkan pada ilmu fisika (tentang bunyi) yang diterapkan kepada bunyi-bunyi bahasa.
            Fonetik (phonetics) ialah ilmu bunyi yang menyelidiki bunyi-bunyi bahwa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (langue) (cf. Malmberg, 1963:1; Verhaar, 1977:12; Ramelan, 1982:3). Fonetik menyelidiki bunyi bahasa dari sudut tuturan atau ujaran (parole) (Sudarjanto, 1974:1). Misalnya, perbedaan bunyi vokal depan madya atas [ e ] dengan vokal depan madya bawah [ ε ] dalam bahasa Indonesia. Perbedaan bunyi vokal letup bilabial [ b ] tak beraspirasi dengan [ bh ] yang beraspirasi dalam bahasa Indonesia dan Madura.
Dengan kata lain fonetik ialah ilmu yang menyelidiki dan berusaha merumuskan secara teratur tentang hal ikhwal bunyi bahasa. Bagaimana cara terbentuknya; berapa frekuensi, intensitas, timbrenya sebagai getaran udara; dan bagaimana bunyi itu diterima oleh telinga. Kata sifat fonetik adalah fonetis (phonetic).
a.       Jenis Fonetik
            Berdasarkan luasnya cakupan studi fonetik, hal ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu Fonetik organis, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.
Ø  Fonetik Organis
            Fonetik jenis ini menitikberatkan pada proses terjadinya bunyi bahasa oleh organ ucap manusia (organ of speech). Karena organ ucap sangat erat hubungannya dengan tubuh manusia sebagai makro, fonetik ini juga sangat erat dengan fisiologis (ilmu tubuh manusia). Jadi fonetik organis disebut juga fonetik fisiologis.
            Fonetik jenis ini sering juga disebut fonetik artikulatoris, karena alat bicara manusia sekarang lebih banyak berfungsi sebagai sistem artikulasi.
Mengapa kajian ini lebih banyak diterima dalam bidang lingustik ?
Karena setiap kajian lingustik harus mempunyai manfaat bagi lingustik (ilmu bahasa) itu sendiri, dan kajian fonetik artikulatoris ini paling bermanfaat bagi ilmu bahasa dan paling mudah dilaksanakan.
Ø  Fonetik Akustik
            Fonetik akustik merupakan fonetik yang paling eksak, karena didasarkan pada penemuan – penemuan ilmu fisika dan matematika. Bagi pakar bahasa cara ini dianggap kurang praktis karena selain cara ini sulit diterangkan, juga mereka tidak mempunyai kesempatan yang leluasa untuk mempelajari fisika dan matematika. Fonetik akustik ini menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut aspek fisiknya, artinya bunyi – bunyi bahasa pada hakikatnya bunyi akan menggetarkan udara di sekitar dan terjadilah bunyi bahasa yang didengar telinga.
Ø  Fonetik Auditoris
            Fonetik ini menekankan pada cara penerimaan bunyi – bunyi bahasa oleh telinga. Indra pendengaran manusia yang terdiri atas daun telinga, selaput gendang, tulang martil, landasan, sangguriti, rumah siput dll. Bunyi – bunyi bahasa yang berupa gelombang bunyi itu menggetarkan selaput gendang yang dilanjutkan oleh tulang martil, landasan,dan sanggurdi menuju rumah siput. Vokal / i / yang mempengaruhi / k / pada kata “maki” tergolong vokal depan, yang mengakibatkan / k / pada “maki” tertarik ke depan (disebut velar depan).

BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan

Ø  Fonologi adalah bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu yang menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal. Salah satu aspek di dalamnya adalah masalah distribusi fonem.
Ø  Dalam kajian fonemik, istilah fonem juga dibicarakan. Bahwa fonem merupakan bunyi bahasa  terkecil yang dapat atau berfungsi membedakan arti. Telaah tentang fonem inilah yang dikatakan fonemik. Sedangkan
Ø  Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.