BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas
dunia ini, karena dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya dan
bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Fonologi memusatkan perhatiannya
kepada bahasa sebagai medium komunikasi daripada sebagai hal-hal lain, apakah
dalam bentuk lisannya ataukah dalam bentuk tertulisnya. Oleh karena ada
ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali
ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali
ahli-ahli itu mempergunakan juga fonologi sebagai alat untuk menganalisis
bahasa dalam bidang mereka, maka terjadi semacam gabungan pendekatan dalam
studi itu.
Dalam fonologi terdapat struktur-struktur yang mendasari pengetahuan fonologi. Oleh karena itu kami sengaja akan sedikit membahas tentang hal-hal yang mendasarinya dari sedikit ilmu yang kami dapatkan.
Dalam fonologi terdapat struktur-struktur yang mendasari pengetahuan fonologi. Oleh karena itu kami sengaja akan sedikit membahas tentang hal-hal yang mendasarinya dari sedikit ilmu yang kami dapatkan.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis
dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.
Apa pengertian Fonologi?
2.
Apa manfaat Fonologi?
3.
Apa tinjauan Fonemik?
4.
Apa tinjauan Fonetik?
5.
Apa perbedaan Fonemik dan Fonetik?
C.
Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk membuka pengetahuan
serta mengorek seluk beluk tentang fonologi yang mempunyai implikasi dalam
penerapannya bagi pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta
mengetahui perbedaan antara Fonemik dan Fonetik. Selain itu makalah ini dapat
dijadikan sebagai referansi bagi calon guru maupun guru dalam pengajaran sastra
di sekolah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fonologi
Di dalam penyelidikan, bunyi-bunyi bahasa itu banyak ragamnya. Karena itu
bunyi-bunyi tersebut diklasifikasikan ke dalam klasifikasi tertentu, ilmu
yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa serta merumuskannya secara teratur
dan sistematis tersebut dinamakan fonologi, (phone= bunyi; logos =
ilmu). Sedangkan menurut Verhaar (1987:36) mengatakan bahwa fonologi adalah
bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu
yang menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal. Salah satu aspek di
dalamnya adalah masalah distribusi fonem.
B. Manfaat Fonologi
Penyelidikan bunyi-bunyi bahasa suatu bahasa mempunyai fungsi yang besar dalam
hal menciptakan tanda-tanda/lambang-lambang yang menyatakan bunyi ujaran. Lambang-lambang
bunyi ujaran itu disebut huruf,
sedangkan aturan penulisan huruf itu disebut ejaan.
Munculnya ejaan jelas merupakan usaha yang memiliki manfaat besar,terutama
untuk menyimpan informasi. Kalau ejaan dapat diterapkan sesuai dengan bunyi
ujaran, tentunya, informasi yang diabadikan lewat tulisan itu juga akan lebih
komunikatif. Namun, harus disadari bahwa tidak pernah ada sistem tulisan yang
sempurna.
Dalam penggunaan secara praktis, bunyi-bunyi bahasa yang beragam itu akan sulit
digambarkan. Andaikan dapat menghafalkannya (dalam usaha menggunakan bahasa
tulis) bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi jika bunyi-bunyi itu mirip.
Karena itu, hasil penyelidikan fonemiklah yang seharusnya dijadikan dasar
pembentukan sistem tulisan. Dasar yang harus digunakan di sini adalah sebuah
fonem dilambangkan dengan satu huruf/tanda/lambing/grafem. Sistem tulisan
(ejaan) yang demikian ini disebut ejaan fonemis. Dengan kata lain, ejaan
fonemis ini menganut sistem monograf.
Di samping itu, fonem /ә/ dan /è/ yang
terbukti sebagai fonem-fonem yang berbeda dilambangkan dengan huruf yang sama,
yakni (è). Telah terbukti pula bahwa antara /?/ (apostrof) /bisat ( ‘ ) dengan /k/ terdapat perbedaan yang
fungsional, tetapi kenyataannya keduanya dilambangkan dengan huruf yang
berbeda, yakni (k) atau ( ‘ ) tetapi ada perbedaan dalam pengucapannya. Satu
grafem/huruf yang melambangkan dua fonem yang berbeda ini dikenal dengan
istilah diafon.
C. Kajian Fonemik
Dalam kajian fonemik, istilah fonem juga dibicarakan. Bahwa fonem merupakan
bunyi bahasa terkecil yang dapat atau berfungsi membedakan arti. Telaah
tentang fonem inilah yang dikatakan fonemik.
Telaah bunyi bahasa yang dikaitkan dengan fungsinya sebagai pembeda arti ini
baru berkembang pada permulaan abad ke duapuluh. Seorang Polandia, Kurszweski
dianggap sebagai pelopornya. Namun, dia sendiri tidak mengembangkan idenya. Ide
Kurszweski yang meletakkan dasar-dasar fungsi sebuah bunyi bahasa,
kemudian dikembangkan oleh Bandouin de Caurtanay, Daniel Jones, dan Edward
Sapir. Hal ini lebih ditegaskan lagi dalam kongres linguistik di Den Hag
(Belanda) tahun 1928, yang menyarankan agar setiap analisis bahasa harus
membedakan bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi (fonem) dan bunyi-bunyi bahasa
yang tak berfungsi (fona). Fonemik menggunakan materi yang diambil dari hasil
penelitian fonetik. Namun, tidak seluruh materi fonetik menarik perhatian
fonemik. Karena itulah fonemik mengadakan pemilihan materi, yaitu hanya
bunyi-bunyi bahasa yang mampu membedakan arti serta variasi-variasinya yang
muncul dalam ucapan.
Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya,
bunyi-bunyi itu dikelompok-kelompokkan ke dalam unit-unit yang disebut fonem.
Fonem inilah yang dijadikan objek penelitian fonemik. Jadi, tidak seluruh
bunyi bahasa yang bisa dihasilkan oleh alat bicara dipelajari oleh fonemik.
Bunyi-bunyi bahasa yang fungsional yang menjadi kajian fonemik. Dalam hal ini
L. Bloomfield (1964:78) menuliskan “the
study of significant speech sound is phonology or practical phonetics”.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, fonemik mengambil sikap yang
sesuai dengan harapan penelitian linguistik. Jika pembedaan bunyi bahasa
(ucapan) hanya didasarkan pada sikap dan posisi alat bicara yang relatif banyak
jumlahnya, tak akan mudah bunyi bahasa itu ditentukan jumlahnya secara pasti. Fonem /k/ pada
kata “paku” dan /k/ pada kata “maki” tidak dihasilkan pada posisi artikulasi
yang sama. Bunyi /k/ pada kata “paku” terpengaruh oleh vokal /u/ yang tergolong
vokal belakang, sehingga /k/ tertarik ke belakang menjadi velar belakang,
sedangkan vokal /i/ yang mempengaruhi /k/ pada kata “maki” tergolong vokal
depan, yang mengakibatkan /k/ pada “maki” tertarik ke depan (disebut velar
depan).
Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya,
bunyi – bunyi itu dikelompokkan ke dalan unit – unit yang disebut fonem. Fonem
inilah yang dijadikan objek penelitian fonemik. Jadi tidak seluruh bunyi bahasa
yang bisa dihasilkan oleh alat bicara oleh fonemik.
Misalnya perbedan antar bunyi / k /
pada “cocok” (sesuai) dengan / k / pada kelomopk “bercocok tanam”
bersifat fungsional sebab cocok yang pertama diucapkan dengan / k / velar,
sedangkan cocok yang kedua diucapkan / k / hamzah dan cocok pada kedua kat tersebut
berbeda arti. Kata yang pertama diucapkan / cocok / dan kedua / coco? /, contoh
lain pada kata [ laba] dan [ raba ].
D.
Kajian Fonetik
Secara umum bunyi bahasa dibedakan
atas: vokal, konsonan dan semi vokal (Cf. Jones, 1958:12). Perbedaan ini didasarkan
pada ada tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Bunyi disebut
vokal, bila terjadinya tidak ada hambatan pada alat bicara. Jadi tidak ada
artikulasi. Hambatan untuk bunyi vokal hanya ada pita suara saja. Hambatan yang
hanya terjadi pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi (Verhaar,
1977:17). Karena vokal dihasilkan dengan hambatan pita suara bergetar. Glotis
dalam keadaan tertutup, tetapi tidak rapat sekali. Dengan demikian semua vokal
adalah bunyi bersuara.
Bunyi disebut konsonan, bila terjadinya
dibentukdengan hambatan arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada
artikulasi. Proses hambatan atau artikulasi ini dapat disertai dengan
bergetarnya pita suara. Jika hal ini terjadi maka yang terbentuk adalah bunyi
konsonan bersuara. Jika artikulasi itu tidak disertai bergetarnya pita sua-ra,
glotis dalam keadaan terbuka. Maka bunyi yang dihasilkan adalah konsonan tak
bersuara.
Untuk lebih memudahkan pemberian
klasifikatif vokal, Daniel Jones seorang ahli fonetik dari Inggris memperkenalkan
sistem vokal kardinal (Cardinal Vowels). Vokal-vokal kardinal ialah bunyi-bunyi
vokal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu, dan
bentuk bibir tertentu (Jones, 1958:18; cf. Lapolwa, 1981:24).
Vokal-vokal kardinal itu dalam abjad
fonetik internasional (Internasional
Phonetics Associations) urut dari 1 sampai 0. Parameter penentuan
vokal-vokal rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, struktur, dan bentuk
bibir.
Adapun klasifikasi konsonan tidak
diperlukan prinsip-prinsip bagi kardinal karna secara fisiologis antara
konsonan dengan yang lain lebih mudah dibedakan daripada vokal-vokal secara
prak-tis biasanya konsonan dibedakan menurut:
1) Cara dihambat.
2) Tempat hambatan.
3)
Hubungan
posisional antara penghambat-penghambatnya atau hubungan antara artikulator
aktif dengan pasif (struktur).
4) Bergetar tidaknya pita suara.
Fonem merupakan bunyi bahasa yang
fungsional, sedangkan fona tidak. Ilmu yang mempelajari fona inilah dikenal
dengan fonetik. Dengan kata lain bahwa fonetik merupakan ilmu
yang mempelajari bagaimana bunyi bahasa itu terbentuk berupa frekwensi getaran,
intensitas, dan timbrenya, serta bagaimana bunyi bahasa tersebut dapat diterima
oleh telinga (Yulianto, 1989:23).
Keraf (1979:29) menyatakan bahwa
fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang
dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi
tersebut dengan alat ucap manusia.
Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia banyak varia-sinya dan tak terbatas. Perubahan posisi alat ucap akan
membawa perubahan bunyi yang dihasilkan, bahkan dari posisi yang samapun bisa
pula dihasilkan bunyi yang berbeda jika bahasa kerjanya alat-alat yang lain
berbeda (Yulianto, 1989:23).
Lebih lanjut dikatakan bahwa fonetik
adalah cabang ilmu linguistik yang meneliti dasar “fisik” bunyi-bunyi bahasa
(Verhaar, 2001:19). Ada dua segi dasar fisik tersebut, yaitu segi alat-alat
bicara serta penggunaannya dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa, dan sifat-sifat
akustik bunyi yang telah dihasilkan.
Menurut dasar di atas, yang pertama
fonetik disebut “fonetik organik” (karena menyangkut alat-alat bicara), atau
“fonetik artikulatoris” (karena menyangkut pengartikulasian bunyi-bunyi
bahasa). Menurut dasar yang kedua fonetik disebut “fonetik akustik”, karena
menyangkut bunyi bahasa dari sudut bunyi sebagai getaran udara. Sebagian besar
fonetik akustik berdasarkan pada ilmu fisika (tentang bunyi) yang diterapkan
kepada bunyi-bunyi bahasa.
Fonetik (phonetics) ialah ilmu
bunyi yang menyelidiki bunyi-bunyi bahwa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai
pembeda makna dalam suatu bahasa (langue)
(cf. Malmberg, 1963:1; Verhaar, 1977:12; Ramelan, 1982:3). Fonetik menyelidiki
bunyi bahasa dari sudut tuturan atau ujaran
(parole) (Sudarjanto, 1974:1). Misalnya, perbedaan bunyi vokal depan madya
atas [ e ] dengan vokal depan madya bawah [ ε ] dalam bahasa Indonesia. Perbedaan bunyi vokal letup
bilabial [ b ] tak beraspirasi dengan [ bh ] yang beraspirasi dalam bahasa Indonesia
dan Madura.
Dengan kata lain fonetik ialah ilmu yang menyelidiki dan
berusaha merumuskan secara teratur tentang hal ikhwal bunyi bahasa. Bagaimana
cara terbentuknya; berapa frekuensi, intensitas, timbrenya sebagai getaran
udara; dan bagaimana bunyi itu diterima oleh telinga. Kata sifat fonetik adalah
fonetis (phonetic).
a.
Jenis Fonetik
Berdasarkan luasnya cakupan studi fonetik, hal ini dapat dibedakan ke dalam
tiga jenis, yaitu Fonetik organis, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.
Ø Fonetik
Organis
Fonetik jenis ini menitikberatkan pada proses terjadinya bunyi bahasa oleh
organ ucap manusia (organ of speech). Karena organ ucap sangat erat hubungannya
dengan tubuh manusia sebagai makro, fonetik ini juga sangat erat dengan fisiologis
(ilmu tubuh manusia). Jadi fonetik organis disebut juga fonetik fisiologis.
Fonetik jenis ini sering juga disebut fonetik artikulatoris, karena alat bicara
manusia sekarang lebih banyak berfungsi sebagai sistem artikulasi.
Mengapa kajian ini lebih banyak
diterima dalam bidang lingustik ?
Karena setiap kajian lingustik harus mempunyai manfaat bagi
lingustik (ilmu bahasa) itu sendiri, dan kajian fonetik artikulatoris ini
paling bermanfaat bagi ilmu bahasa dan paling mudah dilaksanakan.
Ø Fonetik
Akustik
Fonetik akustik merupakan fonetik yang paling eksak, karena didasarkan pada
penemuan – penemuan ilmu fisika dan matematika. Bagi pakar bahasa cara ini
dianggap kurang praktis karena selain cara ini sulit diterangkan, juga mereka
tidak mempunyai kesempatan yang leluasa untuk mempelajari fisika dan matematika.
Fonetik akustik ini menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut aspek
fisiknya, artinya bunyi – bunyi bahasa pada hakikatnya bunyi akan
menggetarkan udara di sekitar dan terjadilah bunyi bahasa yang didengar
telinga.
Ø Fonetik
Auditoris
Fonetik ini menekankan pada cara penerimaan bunyi – bunyi bahasa oleh telinga.
Indra pendengaran manusia yang terdiri atas daun telinga, selaput gendang,
tulang martil, landasan, sangguriti, rumah siput dll. Bunyi – bunyi bahasa yang
berupa gelombang bunyi itu menggetarkan selaput gendang yang dilanjutkan oleh
tulang martil, landasan,dan sanggurdi menuju rumah siput. Vokal / i /
yang mempengaruhi / k / pada kata “maki” tergolong vokal depan, yang
mengakibatkan / k / pada “maki” tertarik ke depan (disebut velar depan).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ø Fonologi adalah bidang khusus dalam linguistik yang
mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu yang menurut fungsinya untuk
membedakan makna leksikal. Salah satu aspek di dalamnya adalah masalah
distribusi fonem.
Ø Dalam kajian fonemik, istilah fonem juga dibicarakan.
Bahwa fonem merupakan bunyi bahasa terkecil yang dapat atau berfungsi
membedakan arti. Telaah tentang fonem inilah yang dikatakan fonemik. Sedangkan
Ø
Fonetik adalah
ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam
tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan
alat ucap manusia.
No comments:
Post a Comment