“PENGERTIAN
dan ASAS-ASAS KURIKULUM”
A. Pengertian
dan Asas-asas Kurikulum
Kurikulum
yang semula berarti jarak yang harus ditempuh, kemudian menjadi sejumlah mata
pelajaran yang harus dilalui untuk mendapat ijazah.
Para ahli kurikulum “modern”
cenderung memberikan pengertian yang lebih luas, sehingga meliputi kegiatan di
luar kelas, bahkan juga mencakup segala sesuatu yang dapat mempengaruhi
kelakuan siswa, termasuk kebersihan kelas, pribadi guru, sikap petugas sekolah,
dan lain-lain.
Kurikulum dapat dipandang dari berbagai
segi, yakni, curriculum as a product, as a program, as intended learnings, as
the experiences of the learner. Dapat pula kita memandangnya sebagai formal
curriculum, ideal, real, actual curriculum atau potential learning experiences.
Ada
kebaikan dan kelemahan pengertian kurikulum yang terlampau luas atau terlampau
sempit. Hilda Taba memandang kurikulum sebagai “a plan for learning”.
Ada kecenderungan pengertian
kurikulum meluas, karena banyak tugas yang sedianya oleh rumah tangga dan
lembaga informasi lainnya dibebankan kepada sekolah.
Kurikulum senantiasa harus diubah
Karena perubahan masyarakat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perubahan kurikulum berjalan kontinu kalau tidak mau ketinggalan zaman.
Karena adanya macam-macam
difinisi kurikulum, setiap guru harus menentukan tagsirannya sendiri.
Pilihannya itu akan mempengaruhi konsepsinya tentang tugasnya sebagai
pendidikan. Ia dapat menganut pendirian yang tradisional atau progresif.
B. Asas-asas
Filsafat
Filsafat
ialah ilmu yang mencari kebenaran sampai akar-akarnya, jadi suatu kegitan
intelektual. Dalam mengembangkan kurikulum biasanya dipandang sebagai system
nilai-nilai.
Tujuan pendidikan ditentukan oleh
filsafat suatu bangsa.
Walaupun setiap orang mengenal
nilai-nilai, agar dapat dikatakan ia mempunyai fisafat nilai-nilainya itu harus
merupakan suatu system, jadi konsisten dan saling berhubungan.
Dalam kurikulum sering tercantum
tujuan-tujuan yang muluk-muluk tetapi belum tentu dapat direalisasikan. Jadi
keadaan sekolah tidak memberi gambaran tentang keadaan yang sebenarnya.
Filsafat bangsa dan Negara dengan
sendirinya menjadi tujuan pendidikan nasional serta harus pula menjadi filsafat
para pengembang kurikulum dan juga guru dalam pelaksanaanya.
Filsafat pendidikan harus menjadi
“way of life” yang diterapkan dalam lingkungan sekolah.
Tujuan pendidikan nasional sangat
umum dan masih perlu diuraikan menjadi tujuan institusional, kurikuler, tujuan instruksional
umum dan khusus.
Tujuan pendidikan kita didasarkan
atas pancasila, UUD 1945, dan GBHN. Setiap guru harus mempunyai gambaran yang
jelas tentang dasar-dasar pendidikan nasional itu, agar semua pelajaran
diarahkan guna membentuk manusia yang dicita-citakan.
Untuk membentuk manusia seutuhnya
harus diperhatikan aspek kognifig, afektif, dan psikomotor dalam segala
tingkatannya.
Benjamin bloom membantu dalam
merumuskan tujuan yang lebih spesifik dalam ketiga ranah.
Hilda Taba mempersyaratkan agar
dalam rumusan tujuan tercakup proses dan produk.
Herbert Spencer menganjurkan
tujuan-tujuan yang relavan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Buah
pikirannya itu masih berpenaruh sampai sekarang.
C. Asas
Psikologi Kurikulum Dan Psikologis Belajar
Belajar
pada umunya diartikan sebagai perubahan dalam kelakuan seseorang sebagai akibat
pengaruh usaha pendidikan. Ada berbagai-bagai teori belajar yang masing-masing
mempunyai kebaikan dan kekurangan. Adanya kekurangan suatu teori belajar tidak
berate kita harus mengabaikan seluruhnya.
Beberapa teori belajar yang
terkenal ialah teori belajar menurut ilmu jiwa daya, teori asosiasi (termasuk
conditioning), dan teori organismic (Gestalt atau Field theory).
Tiap teori belajar mempunyai
anggapan tertentu mengenai transfer belajar.
Teori Asosiasi dikembangkan oleh
Skinner dalam “belajar berprogrma” dan “teaching manchiners”.
Teori Gestalt mengutamakan
prinsip keseluruhan mengutamakan prinsip keseluruhan, “insight” masalah,
tujuan, pengalaman, minat.
Walaupun teori belajar
berbeda-beda, namun ada prinsip-prinsip yang pada umumnya dapat diterima.
Teori belajar yang dianut
berpengaruh terhadap kurikulum yang dibina. Teori ilmu jiwa daya mengutamakan
latihan mental yang diperoleh melalui bahan pelajaran, teori asosiasi
mengutamakan penguasaan bahan pelajaran sendiri sedangkan teori Gestal
mementingkan perkembangan pribadi anak dalam usaha memecahkan masalah-masalah
yang dihadapinya dalam hidupnya.
Teori belajar juga mempengaruhi
proses kegiatan belajar-mengajar. Namun mengajar belum didukung oleh psikologi
belajar yang diperkuat oleh eksperimentasi. Karena belajar dalam kelas banyak
variable yang tidak dapat dikuasai, maka percobaan kebanyakan dapat dilakukan
tentang belajar menurut asosiasi.
D. Asas
Psikologis Anak
Pandangan tentang anak berubah
secara radikal oleh Jean Jacques Rousseau. Sejak itu anak menjadi factor yang
harus dipertimbangkan dalam kurikulum. Banyak tokoh pendidikan yang dipengaruhi
olehnya.
Pendidikan harmonis mencakup
perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor, atau perkembangan intelektuan,
emosional, social dan fisik.
Anak merupakan keseluruhan dan
bereaksi sebagai keseluruhan terhadap lingkungannya.
Tiap anak unik, mempunyai
ciri-ciri tersendiri, lain dari pada yang lain. Kurikulum hendaknya
memperhitungkan keunikan anak agar ia sedapat mungkin dapat berkembang sesuai
dengan bakatnya. Walaupun tiap anak berdeda dengan anak lain, banyak pula
persamaan antar mereka. Maka sebagian dari kurikulum dapat sama bagi semua.
Kurikulum yang semata-mata
didasarkan atas kebutuhan dan minat anak yakni Child-centered curriculum
dikatakan ekstrem karena anak selalu berada dalam masyarakatnya dan tak dapat
melepaskan diri dari tuntutan masyarakat.
Kebutuhan anak dapat ditinjau
dari segi anak dan dari segi masyarakat. Kedua segi ini harus dipertimbangkan
dalam pengembangan kurikulum.
Abraham Maslow, Lous Raths, Earl
Kelly mempunyai pandangan tertentu tentang kebutuhan anak. Robert Havighusrt
mempertemukan perkembangan individu dengan tuntutan atau harapan masyarakat
dalam konsep “developmentaltasks”.
Jean Piaget
mengadakan studi yang mendalam tentang perkembangan intelektuan anak. Ia
membedakan fase sensomotoris, fase pra-operasional, fase operasional kongkret,
dan fase operasional formal.
Lawrence Kohlberg menggunakan
pola Piaget untuk mempelajari perkembangan moroal pada anak. Ada berbagai cara
bagi guru untuk mempelajari anak.
E.Proses
Perubahan Dan Perbaikan Kurikulum
1. Pengertian Perubahan
Kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991: 38), pengertian perubahan kurikulum
agak sukar untuk dirumuskan dalam suatu devinisi. Suatu kurikulum disebut
mengalami perubahan bila terdapat adanya perbedaan dalam satu atau lebih
komponen kurikulum antara dua periode tertentu, yang disebabkan oleh adanya
usaha yang disengaja.
Sedangkan menurut Nasution (2009:252), perubahan kurikulum
mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan itu .
Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah manusia, yaitu guru, pembina
pendidikan, dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan. Itu sebab perubahan
kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial, suatu social change. Perubahan
kurikulum juga disebut pembaharuan atau inovasi kurikulum.
Mengenai makna perubahan kurikulum, bila kita bicara tentang
perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum digunakan.
Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai
pegangan dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dapat juga dilihat sebagai
produk yaitu apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dan sebagai proses untuk
mencapainya. Keduanya saling berkaitan. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai
sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi
secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Selanjutnya
kurikulum dapat ditafsirkan sebagai apa yang dalam kenyataan terjadi dengan
murid didalam kelas. Kurikulum dalam arti ini tak mungkin direncanakan
sepenuhnya betapapun rincinya dirrencanakan, karena dalam interaksi dalam kelas
selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan
sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang
kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang sebagai cetusan
jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang
tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum ini sangat erat hubungannya
dengan kepribadian guru.
Perubahan
kurikulum dilakukan secara selektif, adaptif dan fleksibel sehingga lulusannya
mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Secara selektif, artinya bahwa
substansi kurikulum atau pengalaman belajar mahasiswa dipilih yang benar-benar
sesuai dengan kebutuhan dan minat mahasiswa serta menunjang pencapaian visi dan
misi kelembagaan. Adaptif, artinya kurikulum yang disusun dapat menyesuaikan
dengan irama kondisi lingkungan. Kurikulum yang adaptable yaitu kurikulum yang
disusun mampu memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu,
kurikulum disusun hendaknya selalu dapat menyesuikan dengan keadaan masyarakat
atau stakeholdernya. Fleksibilitas kurikulum dilakukan melalui fleksibiltas
program-program yang ditawarkan dan selalu mengikuti tuntutan kebutuhan
masyarakat dan dunia kerja. Fleksibilitas sebagai salah satu prinsip penyusunan
kurikulum, bahwa kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang selalu berkembang
dapat dipenuhi oleh kurikulum.
Kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih
terbatas dari pada kurikulum yang riil. Kurikulum yang riil bukan sekedar buku
pedoman, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas , ruang
olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karya wisata , dan banyak kegiatan
lainnya, pendek kata mengenai seluruh kehidupan anak sepanjang bersekolah.
Mengubah kurikulum dalam arti yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian
lebih pelik , sebab menyangkut banyak variabel. Perubahan kurikulum disini
berarti mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru sendiri, murid,
kepala sekolah, penilik sekolah juga orang tua dan masyarakat umumnya yang
berkepentingan dalam pendidikan sekolah. Dalam hal ini dikatakan, bahwa
perubahan kurikulum adalah perubahan sosial, curriculum change is social
change.
2. Proses Perbaikan
Kurikulum
Seperti telah dikemukakan, kurikulum bermacam-macam tafsirannya. Pada
satu pihak, kurikulum dipandang sebagai buku pedoman dan wewenang untuk
mengembangkannya ialah pusat, kementerian Depdikbud. Yang dihasilkan ialah
suatu kurikulum nasional yang menentukan garis - garis besar apa yang harus
diajarkan kepada murid - murid. Di pihak lain, kurikulum dapat ditafsirkan sebagai
segala sesuatu yang terjadi dalam kelas dan sekolah yang mempengaruhi perubahan
kelakuan para siswa dengan berpedoman pada kurikulum yang ditentukan oleh
Pemerintah. Dalam arti terakhir ini, perbaikan kurikulum terutama tergantung
pada guru. Dialah menentukan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kelasnya.
Dalam posisi itu boleh dikatakan ialah pengembang kurikulum, dan ada tidaknya
perbaikan pengajaran dalam kelasnya bergantung pada ada tidaknya usaha guru.
Tak semua guru sadar akan peranannya sebagai pengembang kurikulum,
karena ia memandang dirinya sekadar sebagai pelaksana kurikulum, yang berusaha
jangan menyimpang sedikitpun dari ketentuan dari atasan. Apa yang ditentukan
oleh atasan sebenarnya masih jauh dari lengkap. Yang diberikan terutama garis -
garis besarnya, dan kalaupun dirincikan mustahil meliputi kegiatan guru dan
siswa sampai hal yang sekecil-kecilnya. Kurikulum sekolah kita, menentukan
hanya sampai tujuan instruksional umum (TIU). Yang merumuskan TIK-nya ialah
guru. Bahan pelajaran juga hanya pokok - pokoknya, masih banyak yang harus
dilengkapi guru. Demikian pula metode yang dianjurkan sangat terbatas dan tidak
spesifik. Banyak lagi kesempatan bagi guru untuk secara kreatif memilih dari
sejumlah besar metode, strategi, atau model mengajar yang tersedia. Penilaian
formatif dan sumatif untuk pelajaran yang diajarkan guru, sepenuhnya dalam
tangan guru. la tidak terikat pada test tertulis, akan tetapi dapat menjalankan
penilaian yang lebih komprehensif yang meliputi aspek emosional, moral, sosial,
sikap dan aspek afektif lainnya. la dapat menilai kemampuan kognitif pada
tingkat mental yang jauh lebih tinggi dari pada yang dapat diukur dengan Ujian
Nasional. Dialah yang dapat menilai aspek - aspek kepribadian anak. Ialah yang
berada dalam posisi strategis untuk mengenai perkembangan anak, fisik, mental,
etis, estetis, sosilal, dan lain-lain.
Antara kurikulum nasional yang dijadikan pedoman sampai perubahan
kelakuan anak masih terdapat jarak yang cukup luas yang memerlukan pemikiran, kreativitas,
dan kegiatan guru. Dalam hal inilah ia harus sadar akan fungsinya sebagai
pengembang kurikulum. Fungsi ini tentu harus lebih disadari kepala sekolah yang
bertanggungjawab atas pendidikan di seluruh sekolahnya dan seyogianya berusaha
sedapat mungkin mengadakan perbaikan kurikulum sekolahnya. Tiap sekolah berbeda
dengan sekolah lain, walaupun berada di kota yang sama. Apalagi sekolah di
daerah lain yang berbeda sifat geografi dan social ekonominya. Dan tiap guru
berbeda pribadinya dengan guru lain. Juga muridnya menunjukkan cirri - ciri
khas yang mungkin bertukar dari tahun ke tahun.
Kurikulum tak kunjung sempurna dan senantiasa dapat
diperbaiki. Bahan segera usang karena kemajuan zaman, pelajaran harus
memperhatikan perbedaan individu dan mencari relevansi dengan kebutuhan
setempat, dan sebagainya. Bila kita ingin memperbaiki kurikulum sekolah, kita
harus memperhatikan sejumlah dasar-dasar pertimbangan agar usaha itu berhasil
baik, antara lain :
1.
Perbaikan kurikulum tergantung
pada pertumbuhan guru
2. Perubahan-perubahan di dalam
kurikulum didasarkan atas penelitian perencanaan dan organisasi
3.
Sekolah menjadi pusat perencanaan
4.
Orang-orang yang mengerti dan
mengetahui tentang siswa harus dikut sertakan dalam perencanaan
kurikulum.
5.
Para administrator, guru-guru,
orang tua, orang luar, dan siswa-siswa hendaknya di ikut sertakan dalam
perencanaan kurikulum
6.
Kecendrungan di dalam tingkatan
dasar dan lanjutan hendaknya diarahkan pada organisasi kurikulum yang lebih
bersatu
7.
Kurikulum harus memperhatikan dan
mempertimbangkan semua pengalaman yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan
masyarakat demokrasi
8.
Kurikulum harus memiliki
pengalaman-pengalaman untuk membantu para siswa melakukan penyesuaian diri
terhadap kehidupan sekarang
9.
Kurikulum harus menyediakan
pengalaman-pengalaman yang membantu perkembangan siswa dalam segi intelektual,
jasmani, sosial,emosional dan spritual
10.
Kurikulum harus berkenaan dengan
kwalitas moral yang tinggi sebagai ciri pandangan hidup demokratis
11.
Kurikulum harus interelasi antara
beberapa mata pelajaran
12.
Harus ada perencanaan yang jelas
untuk mencapai keseinammbungan antara isi mata pelajaran.
13.
Harus ada peranaan yang jelas
bagi interaksi sosial dikalangan peserta didik dalam semua daerah pelajaran
14.
Harus ada perencanaan yang jelas
bagi interaksi sosial dikalangan peserta didik
15.
Organisasi kurikulum harus
menyediakan pengajaran langsung untuk mengembangkan penguasaan dasar-dasar
belajar, bekerja efektif dan kebiasan belajar
16.
Isi kurikulum harus memberikan
pengalaman belajar yang kontinu yang berhubungan dengan perinsip-prinsip
perkembangan peserta didik
17.
Kurikulum harus melayani
perbedaan individual dalam kebutuhan, minat, abilitas dan kecepatan belajar
18.
Kurikulum harus memberikan
pengalaman belajar dari yang konkret menuju keabstrak
19.
Apabila suatu evaluasi kurikulum
menunjukkan bahwa adanya perubahan-perubahan tertentu terhadap kurikulum akan
dilakukan maka perlu dilakukan suatu program revisi kurikulum
F. Kurikulum
Dan Masyarakat
Dalam masyarakat yang sederhana
anak-anak banyak mempelajari hal-hal yang diperlukannya sebagai orang dewasa
dalam masyarakat itu sendiri secara informal.
Dalam masa modern tugas
pendidikan untuk mempersiapkan anak agar dapat berdiri sendiri. Dibebankan
kepada sekolah.
Masyarakat modern cepat berubah, sehingga
banyak hal segera menjadi using. Pembaharuan kurikulum harus dilakukan secara
kontinu.
Kurikulum bergantung pada fungsi
sekolah dalam masyarakat, yakni apakah untuk mengawetkan kebudayaan dengan
menyampaikannya kepada generasi muda, mengubah masyarakat, ataukah
mengembangkan individu. Ketiga fungsi itu sebenarnya tak perlu dipertentangkan,
akan tetapi dapat dipertemukan. Namun selalu akan ada perbedaan tekanan.
Sekolah masyarakat sangat
mengutamakan factor masyarakat dalam kurikulumnya.
Sekolah tak boleh berdiri
terpisah dari masyarakat. Berbagai cara dapat dilakukan untuk membawa sekolah
ke masyarakat dan sebaliknya.
Masyarakat merupakan sumber yang
kaya bagi pengajaran di sekolah.
G. Organisasi
Kurikulum
Organisasi kurikulum menentukan
bahan pelajaran, urutannya, dan cara menyajikan.
Bentuk kurikulum yang lebih “tua”
dari yang lain ialah subject curriculum yang berpusat pada matapelajaran yang
tersendiri-sendiri.
Sebagai reaksi terhadap apa yang
dianggap kekurangan-kekurangan kurikulum ini timbul organisasi kurikulum yang
lain seperti correlated curriculum dan integrated curriculum. Integraed
curriculum dapat dibentukactivity curriculum, project curriculum atau
experience curriculum, life curriculum, atau core curriculum.
Subject curriculum telah ada
sejak zaman Yunani yang dilanjutkan oleh orang Romawi dalam bentuk trivium
(gramatika, retorikam danlogika) dan quadrivium (arithmatika, geometrim,
astronomi, dan music), keduanya dikenal sebagai “the Seven Liberal Arts”.
Pada abad pertengahan timbul mata
pelajaran yang vokasional (teologi, kedokteran, hukum) dan kini telah terdapat
ratusan macam mata pelajaran, termasuk yang dianggap non-akadimis.
Subject sebenarnya pengalaman
umat manusia yang disusun secara logis sistematis.
Setiap bentuk kurikulum mempunyai
kebaikan dan kekurangan. Kekurangan-kekurangan suatu kurikulum sering
ditonjolkan oleh para penentangan ditinjau dari segi pendirian masing-masing.
Walaupun subject curriculum
banyak dikecam, dan boleh dikatakan hampir tak ada yang memperjuangkannya,
namun bentuk kurikulum masih sangat popular di mana-mana di dunia,terutama di
Perguruan Tinggi.
Bentuk kurikulum yang lebih baru,
yang juga banyak keuntungannya dan mempunyai ciri-ciri yang dapat mengatasi
kelemahan subject curriculum, namun tidak dapat popularitas yang luas, antar
lain, karena tidak dapat memberikan pengetahuan yang sistematis yang masih
merupakan syarat bagi universitas dank karena guru tidak dipersiapkan untuk
itu.
Metode yang diutamakan dalam
integrated curriculum ialah metede “problem solving” atau metode ilmiah dengan
menghadapkan siswa kepada masalah-masalah yang bermakna baginya.
Menjalankan interfrated
curriculum tidak berarti menyampingkan subject sama sekali, melainkan
memanfaatkannya secara fungsional dalam pemecahan masalah.
Subject curriculum dapat
mengatasi kelemahannya dengan memanfaatkan kebaikan-kebaikan bentuk kurikulum
lainnya.
Core curriculum selalu mengenai
pendidikan umum, walaupun tidak setiap bentuk pendidikan umum dapat diterima
sebagai core curriculum. Core curriculum lebih mirip kepada kurikulum yang
mengusahakan integrasi serta menyesuaikan bahan pelajaran dengan kebutuhan
murid atau masyarakat.
H. Menentukan
Scope Dan Sequence Dalam Pembinaan Kurikulum
Dengan scope dimaksud luas atau
ruang lingkup bahan pelajaran.
·
Kesuliatan dalam menentukan scope
ialah
1. Sangat
cepat bertambahnya pengetahuan
2. Tidak
adanya criteria yang pasti tentang bahan pelajaran yang harus diberikan
3. Tidak
memadainya matapelajaran tradisional
Seiring matapelajaran baru,
sedangkan mata pelajaran yang ada bercokol terus.
Dalam menentukan bahan pelajaran
harus diadakan pilihan, atau seleksi, karena lauasnya bahan yang tersedia dan
terbatasnya waktu belajar serta kemampuan anak.
·
Criteria dalam penentuan bahan
ialah :
1. Tujuan
2. Nilai
sebagai warisan
3. Penguasaan
disiplin
4. Nilainya
bagi kehidupan dalam masyarakat
5. Kebutuhan
dan minat anak
Bahan pelajaran hendaknya jangan
hanya meliputi pengetahuan melainkan juga keterampilan mental.
Aliran yang dianut oleh Pembina
kurikulum merupakan suatu factor dalam penentuan bahan pelajaran.
·
Beberapa prosedur penentuan bahan
pelajaran ialah
1. Menerima
otoritas para ahli
2. Eksperimen
3. Analisis
kegiatan
4. Consensus
5. Fungsi
social
6. Persistent
life situations
7. Kebutuhan
pemuda
Menentukan scope kurikulum yang
subject centered lebih mudah daripada yang integrated. Yang terakhir ini lebih
fleksibel.
Dengan “sequence” dalam pembinaan
kurikulum dimaksud urutuan pengalaman belajar, yakni apaliba bahan itu harus
diajarkan. Penempatan bahan pelajaran berupa matapelajaran sudah jauh berbeda
dengan sebelum perang Dunia II. Matematika yang dulu diajarkan di SMP, kini
sudah mulia diberikandi kelas I SD.
Menurut J. Piaget berpendapat
berdasarkan penelitiannya bahwa anak berusia tujuh tahun telah dapat berpikir
logis dan formal.
Dalam menentukan sequence dapat
diikuti dua pendekatan yaitu : -menyesuaikan bahan dengan anak, atau
-menyesuaikan anak dengan bahan.
·
Factor-faktor dalam penentuan
“sequence” ialah :
1. Taraf
kesulitan bahan pelajaran
2. Apersepsi
atau pengalaman yang telah ada
3. Kematangan
anak
4. Usia
mental
5. Minat
anak
Sequence tidak hanya mengenai
bahan pelajaran tetapi juga dalam proses belajar, yaitu langkah-langkah untuk
mengembangkan konsep-konsep, sikap, kesanggupan berpikir.
I. Mengubah
Kurikulum
Kurikulum
dapat berubah jika satu atau beberapa asas kurikulum berubah. Perubahan salah
satu asas dapat membawa perubahan dalam keseluruhannya.
Menilai kurikulum dalam
keseluruhannya sangat kompleks karena banyak factor yang mempengaruhi anak.
·
Untuk menilai kurikulum harus
dinilai kompenen-kompenennya yaitu :
1. Tujuan
2. Bahan
pelajaran
3. Pengalaman
dankegiatan belajar
4. Organisasi
kurikulum
5. Cara-cara
evaluasi hasil belajar.
Tidak ada satu cara yang pasti
untuk menjamin keserasian bahan pelajaran guna memcapai tujuan tertentu.
Tujuan matapelajaran yagn
terlampau luas sukar dinilai.
Mengubah kurikulum banyak menemui
rintangan karena melibatkan banyak manusia yang berkaitan oleh trasisi dan juga
mempunyai “vested interest”. Dikatakan bahwa perubahan kurikulum berarti
perubahan social.
Pada
umumnya ada dua prosedur utama dalam perubahan kurikulum, yaitu apa yang
disebut “administrative approach” dan “grassroots approach”
Tiap pendekatan mempunyai
kebaikan dan kekurangannya. Admisnitrative approach didukung oleh seluruh
aparatur pendidikan, biaya yang cukup, mengerahkan setiap tenaga ahli yang
diperlukan, dan sebagainya. Dalam “grass roots approach” tidak ada
koordinasi, karena bersifat tersendiri-tersendiri.
·
Beberapa cara yang khusus dalam
perubahan kurikulum secara praktis ialah :
1. Pilot
project
2. Membina
kader
3. Memanfaatkan
guru yang telah menguasai cara baru
4. Menyediakan
alat pengajaran
5. Memperbarui
buku pelajaran
6. Kerjasama
antara sekolah dan universitas
7. Pembaharuan
kurikulum pendidikan guru
8. Mendemonstrasikan
suatu pembaharuan
9. Memulai
pembaharuan dengan satuan pelajaran.
· Setiap kurikulum mempunyai
keempat komponen yang beriktu :
1. Tujuan
2. Pengetahuan
3. Kegiatan
atau pengalaman belajar
4. Penilaian.
Keempat komponen itu saling berhubungan.
Perubahan kurikulum sering
merupakan suatu reaksi terhadap kurikulum yang ada.
Dalam pembaharuan kurikulum
hendaknya sedapat-dapatnya dimanfaatkan kebaikan-kebaikan bentuk-bentuk
kurikulum lainnya.
Daftar Pustaka
Nasution,S.2003.Asas-asas
Kurikulum.Jakarta: PT. Bumi Akasara.
The Star Grand at The Star Grand at The Star Gold Coast
ReplyDeleteA detailed review of The Star Grand at The Star Gold 양주 출장안마 Coast, 서산 출장샵 including hotel 창원 출장안마 information, gaming tables, parking, internet 구리 출장안마 and telephone. 여주 출장샵